Manchester United Tersungkur: Como Cetak 19 Gol dalam Empat Laga Liga Champions
Como mencetak 19 gol dalam empat laga, menaklukkan Leipzig, Manchester United, dan Lens, menciptakan rekor selisih gol terbesar di Liga Champions musim ini.
Manchester United harus menelan kekalahan telak 4-1 ketika bertemu tim asuhan Cesc Fabregas, Como, di panggung Liga Champions. Gairah serangan merah‑putih tampak tak mampu menahan gelombang gol yang mengalir deras dari lini depan Italia. Kegagalan ini menambah catatan pahit bagi sang raksasa Inggris dalam fase grup yang masih panjang.
Sebagai lawan pertama yang menelan empat gol dalam satu pertemuan, RB Leipzig sudah memberi isyarat akan kesulitan menahan serangan Como. Namun, gelombang itu tidak berhenti; setelah kekalahan tipis 2-3 melawan Feyenoord, tim Italia kembali menancapkan 4 gol melawan Manchester United, menegaskan pola serang yang konsisten meski melawan klub papan atas.
Kemenangan selanjutnya datang di Stade Bollaert‑Delelis, di mana Como menorehkan skor 9‑1 melawan Lens. Anastasios Douvikas memimpin pesta gol dengan hat‑trick, sementara pemain muda Matteo Papaccioli menambah satu gol pada debutnya. Hasil itu tidak hanya mencetak rekor selisih gol terbesar, tetapi juga menegaskan dominasi ofensif tim Fabregas dalam empat laga.
Selama empat pertandingan di fase grup, Como menunjukkan pola serangan yang tak kenal lelah. Sebanyak delapan pemain mencatatkan setidaknya satu gol, menandakan distribusi kontribusi yang luas. Kecepatan transisi serta pergerakan tanpa bola menjadi ciri khas, membuat lawan harus menyesuaikan taktik defensifnya dalam waktu singkat secara efektif.
Pelatih Cesc Fabregas menegaskan bahwa mentalitas tim tetap menjadi pondasi utama. Ia menilai para pemain sudah menumbuhkan kepercayaan diri yang tinggi, baik di Serie A maupun Liga Champions. Menurutnya, tidak ada perubahan taktis meski sempat tersungkur oleh Feyenoord; yang berubah hanyalah hasil akhir. Pernyataan ini menambah kepercayaan pada skuad yang kini menatap tantangan berikutnya.
Como Menaklukkan Manchester United
Pertandingan melawan Manchester United memperlihatkan bagaimana Como mengatur tempo sejak menit pertama. Dengan pressing tinggi, mereka memaksa bek merah‑putih membuat kesalahan yang berujung pada gol pertama lewat Marc‑Oliver Kempf. Sementara itu, profil Manchester United yang biasanya mengandalkan transisi cepat tampak terhambat oleh pertahanan kompak dan serangan balik cepat Como. Gol keempat dicetak melalui serangan balik cepat di menit ke‑78, menambah jarak.
Ritme Serangan Como di Lens
Lens tak mampu menahan aliran serangan Como yang seolah mengalir tanpa jeda. Setelah gol pembuka Douvikas, tempo pertandingan meningkat; Nico Paz dan Lucas Da Cunha menambah gol masing‑masing, menutup jarak sebelum jeda. Penyerangan berlapis ini memaksa pelatih Lens beralih ke formasi defensif, namun gelombang Como tetap melaju, menghasilkan enam gol tambahan dalam 30 menit. Pemain debutan Matteo Papaccioli menambah gol ke‑8 pada menit ke‑70, menegaskan kedalaman skuad.
Statistik Manchester United dalam Laga Tersebut
Statistik Manchester United dalam pertemuan itu menunjukkan kegagalan di lini tengah; mereka hanya mencatat satu tembakan tepat sasaran dibandingkan delapan dari Como. Selain itu, kepemilikan bola hanya 38 %, sementara tekanan tinggi Como memaksa United kehilangan bola di zona berbahaya sebanyak lima kali, memicu tiga gol balasan. Selain itu, mereka mencatatkan hanya dua umpan silang akurat, sementara Como menghasilkan lima.
Dampak Kemenangan Terhadap Klasemen Liga Champions
Kemenangan beruntun Como menempatkan mereka di puncak grup, sementara Manchester United terdesak ke zona tengah klasemen Liga Champions. Dengan selisih gol +13, Como kini mengincar poin tambahan pada dua laga berikutnya dalam jadwal Champions, yang menampilkan pertemuan melawan tim‑tim kuat lainnya. Tekanan pada United semakin besar untuk memperbaiki statistik mereka sebelum fase knockout. Jika mereka terus meraih tiga poin pada dua laga terakhir, tiket semifinal sudah di depan mata.
Sebagai catatan, produktivitas 19 gol dalam empat pertandingan menjadi tolak ukur baru bagi tim yang tengah menapaki fase grup. Jika Como mampu mempertahankan intensitas serangan dan mentalitas yang ditegaskan oleh Fabregas, mereka berpotensi menantang klub‑klub tradisional di babak selanjutnya. Sementara Manchester United harus mencari solusi cepat agar tidak semakin terpuruk, terutama menjelang pertandingan penting di jadwal Champions.