Jumat, 6 November 2026 · WIB
CARIAJA NEWS

Berita olahraga Indonesia dan dunia. Hasil, klasemen, transfer, dan analisis setiap hari.

Piala Dunia

Alasan Kuat Mengapa Nomor 10 Argentina Tak Bisa Dipensiunkan

Ambisi besar federasi sepak bola Argentina untuk menghormati sang legenda terbentur aturan ketat badan tertinggi sepak bola dunia.

Alasan Kuat Mengapa Nomor 10 Argentina Tak Bisa Dipensiunkan
Ilustrasi: Piala Dunia — Cariaja News

Keputusan besar telah diambil oleh sang kapten legendaris usai menyelesaikan perjalanan panjang bersama skuad La Albiceleste. Peta persaingan di level internasional langsung bergeser drastis, sementara peta kekuatan di klasemen piala dunia menunjukkan dinamika baru yang menuntut adaptasi cepat dari generasi penerus. Di balik euforia gelar juara yang diraih dalam beberapa edisi terakhir, tersimpan sebuah polemik menarik mengenai masa depan nomor 10 yang selama ini melekat erat pada sosok megabintang tersebut.

Federasi sepak bola Argentina sempat menyatakan niat kuat untuk menghentikan penggunaan jersey keramat itu demi menghargai pengabdian luar biasa sang pemain. Namun, ambisi tersebut langsung berbenturan dengan regulasi ketat dari badan tertinggi sepak bola dunia yang mengatur jalannya turnamen resmi. Kebijakan administratif ini membuat pengelola liga internasional maupun turnamen global tidak memberikan pengecualian khusus terkait nomor punggung bagi negara peserta.

Aturan Ketat Turnamen Resmi

Regulasi yang diberlakukan mewajibkan setiap negara pendaftar untuk menggunakan rangkaian angka berurutan pada daftar pemain yang didaftarkan. Ketika menghadapi agenda kompetisi resmi seperti babak kualifikasi atau putaran final turnamen akbar, nomor punggung harus tersedia dari angka pertama hingga batas maksimal skuad. Situasi ini berbeda ketika tim menjalani laga uji coba persahabatan, di mana pengelola tim memiliki kebebasan penuh untuk mengosongkan atribut tertentu demi menghormati legenda mereka.

Preseden Kasus Masa Lalu

Kendala serupa sebenarnya pernah dialami oleh pengurus sepak bola negeri tango ketika berupaya memberikan penghormatan serupa kepada Diego Maradona bertahun-tahun silam. Upaya penghentian penggunaan nomor ikonik tersebut sempat disetujui internal federasi, namun akhirnya dimentahkan oleh otoritas tertinggi bola internasional. Akibat penolakan tersebut, pemain lain terpaksa mengenakan nomor sakral itu dalam ajang piala dunia berikutnya, menciptakan sebuah preseden bahwa tradisi lokal harus tunduk pada regulasi global.

Perbandingan dengan Level Klub

Praktik mengistirahatkan atribut pemain bintang jauh lebih lumrah ditemukan pada kompetisi antarklub di berbagai belahan benua Eropa. Sejumlah kesebelasan elite secara konsisten menyimpan rapat nomor punggung mantan pemain bintang mereka sebagai bentuk penghormatan abadi. Klub asal Italia sukses mengabadikan angka keramat bagi Maradona, sementara AC Milan dan Ajax Amsterdam melakukan hal serupa untuk pemain legendaris mereka masing-masing.

Kandidat Pewaris Generasi Baru

Perubahan komposisi pemain kini memaksa tim pelatih untuk segera mencari sosok paling layak yang sanggup mengenakan warisan beban sejarah tersebut. Sejumlah talenta muda seperti Lautaro Martinez, Julian Alvarez, hingga gelandang muda berbakat Como Nico Paz masuk dalam radar utama. Nama terakhir bahkan disebut memiliki profil permainan yang paling mendekati karakteristik playmaker tradisional penguasa lini tengah. Tantangan berat kini menanti siapa saja yang berani mengambil alih tanggung jawab besar di atas lapangan hijau.

Penulis

Redaksi Cariaja menulis untuk Cariaja News. Artikel ini disunting oleh desk Piala Dunia.